Aku berjalan
menyusuri jalan nan luas. Diatapi oleh terik matahari. Tentunya aku tak
berjalan sendiri. Aku ditemani oleh segerombolan makhluk yang haus akan ilmu. Yah,
kami harus menuju kesebuah tempat. Walaupun jaraknya lumayan jauh, tapi aku
tidak merasakan detik itu berlalu.
Kami pun
sampai disebuah tempat yang sangat luas. Kami semua tahu kami berada dimana dan
apa yang harus kita lakukan. Tanpa perintah yang keras, kami langsung melakukan
‘tugas’, termasuk aku tentunya. Aku menoleh kekiri dan kekanan berulang kali,
tanpa kuduga mataku tertuju kepada sesosok ‘kau’. Kau dan aku setempat, tapi
aku baru saja tahu kalau ditempatku itu ada kau. Bola mataku ini seolah
mempunyai magnet dengan kau, tak mau berpindah objek.
Aku tersadar,
semenjak kejadian itu aku merasakan hal yang lain dari biasanya. Mungkinkah hatiku
ini tertarik padamu? Entahlah, biarkan saja detik dan alam yang menjawabnya. Dengan
cara yang bisa dibilang tidak sadar, tanganku ini mulai menari diatas kumpulan
tombol, bertujuan mencari tentangmu. Pada akhirnya kutemukan, kau ternyata bintang
Hari-hariku
mulai bewarna. Lebih berwarna dari sebelumnya. Terlebih lagi sewaktu aku merasa
bersalah kepada semua temanku dan tanpa sadar butiran bening itu jatuh, kau
datang dan bertanya “tak usah menangis, itu bukanlah masalah” sambil tersenyum.
Aku? Tentu saja langsung tertawa, sementara butiran itu terus mengalir. Betapa lucunya.
Tapi aku sadar, aku ini bukan siapa-siapa. Dan terkadang aku mencoba melupakan,
aku rasa itu akan berhasil
Ternyata
dugaanku benar, aku mulai melupakan walau perlahan. Tapi rasa itu mulai muncul
kembali sejak kau mencoba untuk memulai percakapan melalui dunia maya, meskipun
dengan membahas hal yang sederhana. Aku tak menyangka kau melakukan hal itu. Aku
kira kau tak tahu soal diriku. Dan hal itu terus saja berlanjut. Hal yang
begitu sederhana tetapi tetap membuatku bahagia
Bahagiaku
mulai sirna ketika dia datang. Ternyata kau melakukan hal yang sama dengan yang
kau lakukan padaku, tapi kali ini padanya. Lebih sirna lagi, ketika aku
mengetahui dia juga ada rasa padamu. Begitu pula denganmu, mungkin. Dia, mencoba merebut bintangku.
Perlahan,
si bintang mulai menghilang. Kau sekarang bersenda gurau dengannya seakan
melupakanku. Dari luar, aku terlihat biasa saja akan hal itu. Tetapi tak ada
yang tau apa yang terjadi didalam diriku ini sebenarnya.
Begitulah.
Aku merasa bersalah kenapa aku harus jatuh kepada kau. Tapi apa dayaku kalau
diri ini yang menginginkan. Soal rasaku aku punya alasan kenapa tak seorangpun
kuberitahu, bahkan orang yang kupercayai pun tak kuberitahu. Karena aku takut,
jika ada kuping nakal yang medengarkan dan membahasnya diluar, lalu perlahan
sampai ke kau. Jika itu terjadi, mungkin saja kau akan menjauhiku dengan cepat.
Sekarang, meskipun kau tak tahu mengenai rasa itu, kau tetap menjauh karena
adanya dia. Aku tahu apa yang harus kulakukan, aku tak mau memunculkan rasa itu kepada siapa pu. Aku tak mau kejadian
yang sama terulang kembali.
Wahai dia, silahkan
saja merebut bintangku. Suatu saat, kau
akan merasakannya. Dan aku yakin, tanpa bintangku kini, aku bisa membuat cahaya tersendiriku.